OPINI, Sekolah Serba Panggung, Masa Depan Serba Gantung
OPINI, Sekolah Serba Panggung, Masa Depan Serba Gantung

wes cah, sekolah pokok oleh mangan. ora usah serius2 mengko stress, rumah sakit kebek


Oleh; Hanajuwa

Konon, sekolah adalah gerbang masa depan. Nyatanya, banyak yang lebih mirip panggung sandiwara: megah di brosur, kosong di makna. Di balik tembok berplang “internasional”, guru-guru kurus kering berjuang membeli pulsa untuk mengabari wali murid, sementara yayasan sibuk menagih biaya A sampai Z—dari “donasi gedung” hingga “sumbangan inovasi global”. Komite sekolah? Katanya musyawarah, praktiknya seperti arisan wajib: siapa menolak, dicatat sebagai pembangkang.

Di ruang kelas, drama lain berlangsung. Seorang guru SD yang sudah 16 tahun mengajar masih gemetar ketika murid bertanya cara porogapit. Ia menutupi kebingungan dengan pidato panjang dan loncatan teatrikal, seolah panggung stand-up comedy. Murid menahan tawa, sebagian terdiam, sadar bahwa rumus yang dikejar tak pernah masuk akal di luar ujian. Ironi terbesar: sang guru sendiri tahu, sebagian besar teori yang ia ucapkan hanya hidup di lembar soal, tak pernah hadir di warung, sawah, atau meja kerja.

Sekolah seharusnya menyiapkan masa depan, tapi kerap hanya menggugurkan kewajiban undang-undang. Anak belajar menghafal istilah yang tak pernah dipakai, sementara keterampilan hidup—mengatur uang, membaca peluang, mengelola emosi—terpinggirkan. Pungutan liar dibungkus “kesepakatan”, program internasional jadi dalih memeras, dan guru yang mestinya teladan justru terjebak jadi admin grup paguyuban yang riweuh.

Kita pun terjebak dalam kebiasaan kolektif: menganggap ijazah sebagai tiket surga ekonomi. Padahal sekolah yang tak menyalakan rasa ingin tahu hanyalah pabrik seragam—mengeluarkan lulusan yang bisa menulis rumus, tapi gagap ketika hidup menagih solusi nyata.

Sekolah formal memang penting, tapi tanpa keberanian mereformasi, ia hanyalah gedung berplakat visi mulia yang melahirkan generasi pandai menghafal, namun miskin makna. Masa depan anak bukan di gedung itu, melainkan di kemampuan berpikir yang seharusnya sekolah rawat, bukan belenggu.

Penulis: Hanajuwa

Tanggal: 20 September 2025 00:05

Disetujui

Kolom Opini
Perkuat Mutu Pendidikan dan Capaian TKA, PC Pergunu Lamongan Silaturahmi dengan Bupati, Bahas Pengembangan Kompetensi Guru

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 09 Oct 2026

Bapak Bupati Photo Bersama Pengurus Pergunu Lamongan LAMONGAN...

Baca Selengkapnya

Guru NU Lamongan Menyongsong Transformasi Pendidikan melalui Pelatihan AI Bersama UGM

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 06 Oct 2026

info. pergunulamongan Lamongan — Transformasi pendidikan di era d...

Baca Selengkapnya

𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖
𝘿𝙞𝙡𝙚𝙢𝙖 𝙇𝙪𝙡𝙪𝙨𝙖n 𝙎𝙈𝘼, 𝙎𝙈𝙆 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙈𝘼 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙣𝙟𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝘽𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖

Oleh: SUKARDI, S.Pd. M.Pd. | 10 May 2026

Setiap tahun, ribuan lulusan SMA, SMK, dan MA memasuki fase baru dalam kehidup...

Baca Selengkapnya

Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler
Menjaga Tradisi, Membangun Generasi: MTs Al Muhtadi Lestarikan Basa Krama Lewat Kokurikuler

Oleh: M. Yunus | 30 Apr 2026

Mentari pagi menyapa hangat halaman MTs Al Muhtadi Sendangagung pada Sabtu, 18 A...

Baca Selengkapnya